Kalau dengar kata hati, rasanya ada perasaan
tersendiri dengan kata ini, sensitif. Hati kita dapat bicara, tapi kita tak
yakin benarkah suara itu datang dari hati kita? Atau dari kepala kita? Kalau memikirkan
hal ini saya jadi pusing pokoknya. Kita juga tau kalau kita bisa merasakan
dengan hati, jika kulit bisa merasakan kasar dan halusnya suatu permukaan
benda. Begitu pula dengan hati, tetapi hati bisa merasakan yang tidak bisa
indra kita rasakan. Hati adalah anugrah yang luar biasa. Bagaimana tidak? Jika kita
merasakan sayang, cinta, itu hati kita yang merasakan dan tau. Tetapi belum
tentu kita bisa mengungkapkannya lewat lisan. Karna banyak kata-kata yang tak
mampu mewakili perasaan kita. Hati kita pada dasarnya sangat mengetahui mana
yang baik dan yang buruk tetapi jika telah tertutup kedengkian maka seakan-akan
hati kita sudah tak punya peran lagi. Mahluk hidup terutama manusia juga bisa
membenci, kita bisa merasakannya dalam diri kita. Tapi apakah itu murni dari
hati kita. Penyebab kita benci pastilah banyak, terutama jika hal itu tidak
sejalan dengan pemikiran kita. Jadi menurut saya benci itu datang dari
pemikiran, karna hati pada dasarnya fitrah. Tetapi seperti yang saya sering
tuliskan di tulisan-tulisan saya sebelumnya, pemikiran itu memiliki peran yang
besar pada hidup kita, dia bisa sangat membantu atau bahkan bisa menghancurkan
hidup kita. Kebencian bisa karna pikiran negatif (tapi kalau benci terhadap hal
yang buruk / batil sih ga pa2, berarti kita tau yang benar). Lalu dia akan
menyerang hati kita, dan virusnya akan menyebar keseluruh penjuru hati. Apa yang
terjadi? Tindakan kita akan terinfeksi juga olehnya. Seorang tak perlu mampu
untuk mengutarakan isi hatinya lewat lisan, karna semua orang punya hati, mereka
bisa merasakannya lewat hati masing-masing. Tapi ya, hati manusia itu
berbeda-beda, ada yang sensitif ada pula yang susah untuk memahami suatu
keadaan, jadi jangan terlalu egois untuk memaksakan kehendak orang lain untuk
tau perasaan kita. Lalu bagaimana jika mulut kita bisa mengutarakan rasa benci
kita ke orang lain? Pasti banyak orang terbunuh cukup dengan kata-kata. Ya seperti
pepatah mengatakan kalau lidah dapat lebih tajam dari pada pisau, dan mulutmu
harimau mu. Dapat kita analogikan dengan ketika kita menancapkan paku di pagar
atau bambu kemudian kita cabut lagi, apakah bisa tidak ada lubang? Bisakah kita
kembalikan kondisi bambu itu seperti semula sebelum di paku? Sama halnya dengan
hati kita. Setelah disakiti, lukanya akan slalu membekas disana. Maka penting
sekali bagi kita untuk menjaga lisan kita, hati kita terutama. Jangan biarkan
kedengkian meracuninya. Ia seperti virus. Berarti kita perlu anti virus nih...
tapi udah diupdate belum? Kalo gitu yuk kita saling mengingatkan untuk setiap
saat mengupdate antivirus kita dengan slalu mengingat dan beribadah kepada
Allah SWT, agar Allah juga senantiasa berada didalam hati ini dan menjaganya,
amien.... online ma Allah gratis kan? buat update status yang ga gratis aja bisa kenapa online ma Allah ga bisa? SEMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!
No comments:
Post a Comment