Jaman SMA, ada seorang teman yang menanyakan pada saya kenapa
saya mau gabung ngobrol bareng dia dan teman – temannya. Kaget sih denger
pertanyaan kaya gini, alasannya dia berfikir kalau saya termasuk orang yang
pilih-pilih teman yang “baik” saja. Well, mungkin saya termasuk orang yang ga
gampang percaya sama orang lain tapi bukan berarti ga mau berteman lah ya. Bagi
saya berteman sih sama siapa aja, bahkan meskipun saya tau kalau dia bukan
orang yang”sama pribadinya” dengan saya, that’s no matter.
Ada kalimat bahwa bertemanlah dengan yang baik. Memang benar
tapi kalau saya sih ga ditelan mentah-mentah keles :p Saya malah tertantang
kalau berteman yang jelas berbeda dengan karakter saya, ini membantu saya
berfikir dewasa loh. Mungkin sering saya ungkapkan bahwa kita sering men-judge
sesuatu tanpa tau asal usulnya. Kata pepatah Arab, Manusia membenci apa yang tidak dia ketahui.
Banyak sekali hal yang menurut saya tak disangka dengan
mengenal lebih dekat dibanding hanya gosip. Terkadang orang memiliki alasan
kenapa berperilaku seperti itu, dan dari pada menghakimi seolah kita sudah
menjadi pribadi yang benar saja mending kenali mereka atau diam saja. Toh saya
juga bukan manusia yang bisa dibilang baik, saya hanya berusaha atau mungkin
berpura-pura. Tak munafik lah kita tak jarang tak suka dengan perilaku
seseorang tapi tak perlu membawanya kemana-mana. Penyakit yang saya takuti
adalah tertutupnya mata hati kita hanya karna kebencian kecil, benar adanya
kalau beribu kebaikan akan lenyap hanya dengan satu keburukan. Amit-amit lah
ya...
Ada yang bilang bahwa hidup saya baik-baik saja,
lempeng-lempeng aja, dan ga da masalah. Dalam hati (U don’t have to know me
well and sometimes it’s better to be a secret :’)) mungkin agak alay tapi saya
lebih bangga dibilang orang misterius hahaha... saya tak ingin pikiran saya
banyak terbaca oleh orang. Katanya menjadi seorang muslim ketika senang jangan
berlebihan dan sedihpun jangan berlebihan. Lebih baik bila biasa saja, tapi
pasti ga lupa buat bersyukur dong. Ga jarang komentar “kamu bisa galau juga?”
ya iyalah ya, namanya ja manusia yang berperasaan. Tapi tak perlu diumbar juga
kan? Mungkin saya mulai alay kalau dengan orang yang benar-benar deket banget,
itu pun bisa diitung jari.
Slama ini yang masih saya pelajari adalah how to put on your make up and hide your weakness. Okey, bukan
berarti saya senang memakai topeng, tapi kadang kalanya lebih baik berpura-pura
dibanding menyakiti diri sendiri dan orang lain. Mungkin karna saya tipe orang
yang paling males buat berdebat kali. Tapi disini perlunya unggah ungguh, sopan
santun dan pendidikan. Lalu bukan berarti saya ingin semua orang seperti saya,
kita lahir dengan perbedaan and it’s beautiful! Mungkin saya bisa katakan ini
adalah kelebihan sekaligus kelemahan saya yaitu untuk mendahulukan perasaan
orang lain. Disini saya perlu pengetahuan kapan saat harus bertindak seperti
itu atau kapan harus mengikuti keinginan hati.
Pada intinya, jangan membenci orang tapi bencilah perilakunya,
jangan memaki ketika mengajari. Manusia bisa berubah kapan saja dan bukan hak
kita untuk menghakimi sesuatu yang tak kita ketahui. Setiap orang adalah
makhluk yang kompleks dan sulit untuk menyimpulkan dia orang yang bagaimana.
Setiap orang bunyak sisi kelamnya dan mencoba mencari cahaya didalamnya adalah
hal yang perlu kita pertimbangkan. To put on your make up is not only about to
hide your darkness but also to look for something to learn from the others.
Dari pura-pura baik menjadi kebiasan dan menjadi perilaku yang baik juga. Bisa
karna terbiasa :D