Search This Blog

Tuesday, July 8, 2014

I’m not I was used to be

Yup,” saya bukan saya yang dulu” that’s right. selama 20 tahun 8 bulanan perjalanan hidup saya (sedikit mendramatisir :p), banyak yang terjadi dengan hidup saya, dari pemikiran, pemahaman sampai mimpi-mimpi yang saya sampaikan dalam do’a-do’a. jaman balita (keren kan umur 3 tahun masih inget nih :D)saya termasuk anak yang nakal loh, paling parah nyolekin jendela rumah tetangga pake sabun cuci sampe penuh (brani ga? :p), waktu itu saya masih tinggal di cilacap. umur 4 tahunan pindah ke pemalang dan memulai perjalanan sekolah disana. karna suatu masalah yang ga bisa diterima oleh saya (too small to understand :( huhu...)mungkin mempengaruhi psikologis saya kali ya,perilaku saya berubah 90 derajat (kurang ga?) jadi anak yang pendiam dan memilih banyak menghabiskan waktunya di rumah especially bed room (kayanya mpe sekarang? :D) 

Meskipun begitu tapi alhamdulillah masih sempet dong main kaya anak-anak lainnya, bersepeda sampe ke desa-desa tetangga (pernah nyungseb di adukan semen -_-), nyariin keong di sawah, main di sungai (pernah hanyut trus ditolongin orang yang lagi nyuci baju XD) sependiem-pendiemnya saya ya masih bikin masalah wkwk..

Jaman SD-SMP saya hidup dalam imajinasi-imajinasi yang saya buat. Makanya kurang gahol haha.. tontonannya barbie, kartun (sampe sekarang sih :D uwa a a..)tapi SMP kelas 9 udah mulai nontonin film-film yang berbau science (gaya dikit), lama kelamaan saya rasa pemikiran barat masuk kehidup saya, eits jangan mikir yang aneh-aneh lo yah..! saya sampe sekarang masih seneng nontonin film luar negeri bukan apa-apa tapi dibalik anak rumahan tapi masih punya jiwa petualang dikit-dikit lah he, tapi lewat film banyak tahu kondisi budaya, tempat-tempat yang belum pernah saya pijakkan. saya sadar bahwa dunia ga sesempit daun kelor, betul banget. Untuk memenuhi rasa haus saya akan dunia luar, saya biasa langganan majalah, setiap ke perpus rajin pantengin national geography. Jujur yah, sampe nyoba ngapalin nama-nama tempat di Atlas dunia yang gede di perpus wkwk... berharap suatu hari nanti saya pengin keluar dari kepompong dan terbang kesuluruh penjuru dunia #eeaa..

Selama itu pula saya masih plin plan sama mimpi sendiri, awaaaal banget tu pengin jadi pelukis, maklum waktu masih kecil mainannya dari awal dikasihnya crayon jadi gitu deh, tapi suatu saat saya gambar pasta gigi, temen bilang “yun, kamu gambar tremos yah?” #jleb! ya sudah lah kalo dilanjutkan berbahaya wkwk... sering nonton film ilmuwan-ilmuwan gitu, saya jadi berambisi pengin jadi ilmuwan (yg ini cukup bertahan lama), nonton the mummy, jadi pengin arkeolog (wuualah macem2, untuk nonton full house ga pengin nikah kontrak :p).


Nah, SMA tu merubah segala yang pernah saya pikirkan haha. Sebelumnya pokoknya jadi apa aja deh yang penting bisa pergi dari sini (indonesia), mungkin karna situasi dan kondisi yang bikin saya pengin pergi jauh. Alhamdulillah sih, segalau-galaunya saya waktu dulu saya curahkan ke rasa ingintahuan saya. saya habiskan banyak waktu untuk belajar (les hampir 1 minggu full), tapi jangan di ambil serius belajar bener-bener nih hehe.. waktu tu juga saya janji “no time for fall in love” (pengin ketawa? udah ketawa aja :p) karna saya takut , ya pokoknya takut lah #dilarang kepo saudara... kan ada kalimat gini “don’t you fall in love because u r lonely, but when u r ready” tuhhhh catet bae2k!

Kelas XI saya mulai dihujani pertanyaan oleh orang tua, “mau jadi apa?”, “mau lanjut sekolah dimana?”, yang cukup buat saya stres jujur -_-. kelas XI udah rajin carin beasiswa keluar negeri, pengin keluar, waktu itu saya pikir bisa nemuin bagian hidup saya yang hilang entah kemana dengan pergi jauh (alay badai...!)hingga pada akhirnya saya jatuhkan pilihan saya untuk menjadi seorang pengajar. Bukan karna lagi ngetrend atau gimana tapi udah panggilan jiwa tau! karna saya merasa bahagia hanya dengan berbagi ilmu, just it, simple but really meaning full for me :) Akhir-akhir ini saya sering galau dengan apa yang terjadi dengan diri saya. kadang saya bertanya-tanya kemana perginya A’yun yang dulu penuh ambisi dan keras kepala masalah mimpi? sering terlintas, saya mungkin bisa melakukan lebih bila saya seperti saya yang dulu. Tapi benarkah itu semua yang saya inginkan? bisakah dengan itu membuat saya bahagia kelak? itu pertanyaannya.

Saya tak menyalahkan apabila ada yang berkata “semakin dewasa mimpi mu semakin sederhana”, so what’s wrong with it? bagi saya pribadi mimpi tak harus sesuatu yang WOW menurut orang lain. Ketika ada seorang anak kecil yang bermimpi menjadi seorang pemadam kebakaran, apakah anda akan menertawakannya? Mimpi adalah sesuatu yang kita harapkan, sesuatu tanpa batasan terus mengisi hari-hari kita, bukan hal yang harus terlihat WOW dihadapan mereka tapi kau kehilangan kebahagiannmu yang sesungguhnya. Bagi saya mimpi sama seperti saya mencari kebahagiaan, apakah dengan mimpi ini saya bisa bahagia? jika iya maka saya tak salah memilih mimpi. Kemudian banyak yang salah menafsirkan jikalau kebahagiaan harus dengan materi yang berlimpah, tetapi banyak orang yang hidup sedehana jauh lebih bahagia karna mereka pandai bersyukur. Mungkin saya yang sekarang tak seperti yang dulu, “kemrungsung” dalam mengejar mimpi (yg saya tahu pada saat itu mimpi saya didorong karna rasa jenuh semata), tapi kini dengan mimpi yang baru saya menjalaninya lebih menyenangkan, jika mimpi adalah kebahagian maka saat ini saya sedang menjalani mimpi :). Kalimat “semakin dewasa mimpi mu semakin sederhana”,bukan melarang mu untuk bermimpi setinggi langit kawan, tapi sesungguhnya sebuah pertanyaan seharusnya semakin dewasa (bijak) kamu sudah semestinya bermimpi dengan landasan yang sederhana, maksudnya adalah bermimpi bukan untuk alasan bukan dari diri sendiri, tetapi karna kau punya harapan untuk bermimpi seperti yang kau inginkan dari dalam lubuk hati mu.


Mulai detik ini, ketika saya menyelesaikan tulisan ini, saya hanya ingin hidup bahagia dengan menjalani mimpi saya. saya tak pernah tau apa yang akan terjadi 10 tahun atau berapa tahun kedepan. Tetapi untuk saat ini saya bahagia dengan mimpi saya, dan itu lebih dari cukup. Tak ingin mempermasalahkan mengapa tak seperti yang dulu. Mungkin inilah proses pendewasaan, dalam meraih mimpi pasti ada saja ujian, tapi semoga do’a saya, saya akan tetap menjalani mimpi saya. Karna hidup saya berawal dari mimpi :) don’t be affraid to dream, it’s tottaly free but expensive for people who just affraid of risk.

 
see ya next post :D