Search This Blog

Tuesday, October 16, 2012

Heart



Kalau dengar kata hati, rasanya ada perasaan tersendiri dengan kata ini, sensitif. Hati kita dapat bicara, tapi kita tak yakin benarkah suara itu datang dari hati kita? Atau dari kepala kita? Kalau memikirkan hal ini saya jadi pusing pokoknya. Kita juga tau kalau kita bisa merasakan dengan hati, jika kulit bisa merasakan kasar dan halusnya suatu permukaan benda. Begitu pula dengan hati, tetapi hati bisa merasakan yang tidak bisa indra kita rasakan. Hati adalah anugrah yang luar biasa. Bagaimana tidak? Jika kita merasakan sayang, cinta, itu hati kita yang merasakan dan tau. Tetapi belum tentu kita bisa mengungkapkannya lewat lisan. Karna banyak kata-kata yang tak mampu mewakili perasaan kita. Hati kita pada dasarnya sangat mengetahui mana yang baik dan yang buruk tetapi jika telah tertutup kedengkian maka seakan-akan hati kita sudah tak punya peran lagi. Mahluk hidup terutama manusia juga bisa membenci, kita bisa merasakannya dalam diri kita. Tapi apakah itu murni dari hati kita. Penyebab kita benci pastilah banyak, terutama jika hal itu tidak sejalan dengan pemikiran kita. Jadi menurut saya benci itu datang dari pemikiran, karna hati pada dasarnya fitrah. Tetapi seperti yang saya sering tuliskan di tulisan-tulisan saya sebelumnya, pemikiran itu memiliki peran yang besar pada hidup kita, dia bisa sangat membantu atau bahkan bisa menghancurkan hidup kita. Kebencian bisa karna pikiran negatif (tapi kalau benci terhadap hal yang buruk / batil sih ga pa2, berarti kita tau yang benar). Lalu dia akan menyerang hati kita, dan virusnya akan menyebar keseluruh penjuru hati. Apa yang terjadi? Tindakan kita akan terinfeksi juga olehnya. Seorang tak perlu mampu untuk mengutarakan isi hatinya lewat lisan, karna semua orang punya hati, mereka bisa merasakannya lewat hati masing-masing. Tapi ya, hati manusia itu berbeda-beda, ada yang sensitif ada pula yang susah untuk memahami suatu keadaan, jadi jangan terlalu egois untuk memaksakan kehendak orang lain untuk tau perasaan kita. Lalu bagaimana jika mulut kita bisa mengutarakan rasa benci kita ke orang lain? Pasti banyak orang terbunuh cukup dengan kata-kata. Ya seperti pepatah mengatakan kalau lidah dapat lebih tajam dari pada pisau, dan mulutmu harimau mu. Dapat kita analogikan dengan ketika kita menancapkan paku di pagar atau bambu kemudian kita cabut lagi, apakah bisa tidak ada lubang? Bisakah kita kembalikan kondisi bambu itu seperti semula sebelum di paku? Sama halnya dengan hati kita. Setelah disakiti, lukanya akan slalu membekas disana. Maka penting sekali bagi kita untuk menjaga lisan kita, hati kita terutama. Jangan biarkan kedengkian meracuninya. Ia seperti virus. Berarti kita perlu anti virus nih... tapi udah diupdate belum? Kalo gitu yuk kita saling mengingatkan untuk setiap saat mengupdate antivirus kita dengan slalu mengingat dan beribadah kepada Allah SWT, agar Allah juga senantiasa berada didalam hati ini dan menjaganya, amien.... online ma Allah gratis kan? buat update status yang ga gratis aja bisa kenapa online ma Allah ga bisa? SEMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!