Assalamu’alaikum... Sudahkah kita
bersyukur hari ini? well, kali ini saya ingin sharing apa yang saya rasakan dan
saya pelajari hari ini. Sebenernya hal ini sudah sering saya alami, begitu pula
saya yakin dengan teman-teman.
Dewasa ini saya merasakan bahwa
angka pengemis di daerah saya maupun di kota saya kuliah meningkat. Ya tapi
mungkin hanya perasaan saya karna belum pernah survey kan. Apalagi kalau liat
berita-berita di TV wah Jakarta kaya gudangnya. Sering saya berfikir apa sebenarnya
yang mengakibatkan orang memilih meminta-minta? ya tak jarang pasti berfikir
kalau hidup jaman sekarang mencari pekerjaan susah, apalagi jika tak pernah
menempuh pendidikan. Kadang sarjana pun masih ada yang nganggur.
Saya sendiri sering sekali mood
menjadi berubah ketika melihat pengemis, ya bisa jadi sedih, nyesel, bersyukur
juga karna “Ya Allah saya beruntung”. Terkadang ingin sekali bantu (ngasih
duit) tapi kalo lagi di angkot atau kendaraan susah ngasih keluar, kadang naruh
uangnya susah diambil, ga ada uang receh, dan sebagainya. Rasanya tu nyesek
mending ga usah liat T.T Pernah suatu ketika saya dari stasiun naik angkot, sepanjang jalan banyak pengemis
terus saya jadi galau. Eeeeh pas turun dari angkot, saya baru tau kalau bapak
supir cacat kakinya L kedua
kalinya juga saya pernah naik angkot yang bapak supirnya kedua tangannya cacat.
Dari melihat itu rasanya saya bukan apa-apa. Dijalanan banyak orang cacat yang
jadi pengemis tapi masih ada beberapa orang yang memilih lebih bersyukur,
menerima kekurangannya dan mencari rezeki dengan apa yang bisa dia lakukan.
Contoh yang lain adalah ketika saya akan menaiki bus menuju stasiun. saya
berpapasan dengan kakek mungkin umurnya sekitar 70 tahunan memanggul sapu-sapu
lantai dengan jalan yang lambat dan agak tertatih. Sumpah rasanya pengin beli
tu sapu 1 atau 2 buah kalau saja saya tak gugup untuk ke stasiun karna kereta
tinggal 2 jam lagi berangkat sedangkan jarak stasiun menggunakan bus sekitar 1
setengah jam-an. Belum kalau bus itu harus berhenti di pasar. Sedih saya dengan
kondisi seperti ini namun, saya sadari sekali bahwa kebahagian bukan sesuatu
yang harus dengan uang yang berlimpah dan teman-temannya. Tapi kebahagiaan itu
diciptakan, salah satunya dengan bersyukur dan saya berdo’a semoga kakek penjual
sapu tadi adalah salah satu orang yang diberi Allah rasa syukur yang besar
aamiin.
Segala hal yang disekeliling kita
pastilah tak hadir begitu saja, tetapi ada hikmah disetiap langkah kaki kita.
Banyak dari kita tahu mengenai cara bersyukur dan mengambil hikmah disekeliling
kita namun, sulit untuk menyadarinya. Seperti numpang lewat saja dan tak ada
artinya. Penting untuk kita lebih peduli terhadap orang-orang disekitar kita
dan lingkungan. “Dan (ingatlah) ketika
Tuhan-mu memaklumkan, “sesungguhnya
jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka azab-Ku pasti sangat berat.” (QS Ibrahim
[14]:7)
Hidup adalah pilihan, life is a
chosen ! seperti pepatah bahwa banyak jalan menuju Roma, yes! there are so many
ways to reach a happines. Tapi kebahagiaan seperti apa yang kau inginkan adalah
PR bagi masing-masing dari kita. Memang benar bahagia adalah ketika kita mampu
bersyukur kepada Sang Pencipta, REMEMBER!! bersyukur tak sama dengan pasrah
dengan kondisi! tetapi lebih kepada menghargai apa yang telah kita capai, ini
mengenai menghargai dan instropeksi diri. Seperti kala saya menghadapi
kegagalan dalam sebuah ambisi, memang tak mudah rasanya tapi bersyukur
menjadikan saya brasa lebih hidup sebagai manusia yang memiliki Tuhan untuk
bersandar kala tak tahu harus bagaimana. Because sometimes life is also
competition, if you don’t win yet to reach your dream, you must remember that “Mungkin
dia lebih pantas karna usahanya yang lebih dibanding dirimu atau memang dia
yang lebih membutuhkan” see? but setelah semua itu bukan berarti kau berhenti
melangkah. karna kegagalan sesungguhnya adalah ketika kau berhenti untuk
mencoba. Let say alhamdulillah J
No comments:
Post a Comment